pollcode.com free polls
Siapa Calon Presiden 2009-2014 Pilihan Anda
Megawati - Prabowo SBY - Boediono JK - Wiranto   

Sabtu, Juli 04, 2009

SBY: Pilih Pemimpin yang Teruji dan Terbukti

Tanggapan Rinaldy Damanik Melalui Surat Terbuka untuk SBY

Kepada yang terhormat,
Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono
Di - Jakarta.

Salam hormat.
Pada tanggal 13 Juni 2009, di GOR KONI Kendari, Sulawesi Tenggara, Bapak SBY menyatakan: ”Jangan ambil resiko memilih pemimpin yang belum teruji dan terbukti. Barangkali masih penuh dengan janji.” (Radar Suteng, edisi 14 Juni 2009). Terimakasih atas nasehat Bapak SBY. Kini, perkenankan kami merespons sekaligus menjawab nasehat Bapak. Pemimpin yang telah teruji dan terbukti ialah: YUSUF KALLA. Mengapa?

Kita pernah bertemu langsung dan berbincang-bincang mengenai masalah Poso dan Nasional, ketika Bapak SBY menerima saya di Istana Negara Jakarta pada tanggal 28 November 2004. Pada waktu itu saya baru bebas dari vonis 3 tahun penjara Kasus Konflik Poso. Terimakasih Pak !

Kini perkenankan saya kembali menyampaikan hal yang tentu Bapak SBY telah memahaminya. Kondisi Kabupaten Poso tahun 2000, 2001 sangat sulit, termasuk dampaknya terhadap wilayah Parigi, Tojo-Una Una, Morowali, bahkan Sulawesi dan sekitarnya. Konflik massal antar komunitas, seakan tak mungkin terhentikan. Seorang korban Konflik Poso menyatakan dalam bahasa Pamona: “Ri kare’e popaiso katuwu jamo ndariso, Lompiu lawi marimbo, ewa damagero lino“(Js.Hokey)

Kondisi itu tentu hanya bisa dirasakan oleh masyarakat yang bertahan di wilayah Kabupaten Poso, terutama para Korban. Setiap orang yang masih berpikir waras, pasti sepakat mengakui bahwa peristiwa Pertemuan Malino Untuk Poso sangat berarti dan minimal telah menghentikan konflik masal antar komunitas. Benar, bahwa pasca-Malino masih terjadi peristiwa-peristiwa pilu yang tidak terduga, tetapi Sepuluh Butir Kesepakatan Malino untuk Poso berdampak luas terhadap perbaikan kondisi Kabupaten Poso dan wilayah-wilayah di sekitarnya. Bahkan Instruksi Presiden RI untuk Poso merujuk dan didasarkan kepada isi Deklarasi Malino yang diprakarsai dan dilakukan langsung oleh Yusuf Kalla.
Kini asam di gunung dan garam di laut kembali bertemu dalam belanga, seperti pepatah dalam bahasa Pamona: ”Podi ri buyu, bure ri tasi wongi ri kura sangkani-ngkani“ (Js. Hokey). Komunitas Muslim, Kristen, Hindu dll saling berinteraksi dalam damai. Jika itu tidak terjadi, bagaimana mungkin dapat beribadah, bekerja, belajar, bergaul, berjalan, beristirahat dengan wajar ?

Saya terlalu yakin mengatakan, bahwa tanpa penerimaan masyarakat Poso terhadap Sepuluh Butir Kesepakatan Malino untuk Poso, akibat Konflik Poso tidak mungkin Bupati Poso yang terpilih tahun 2005, beragama Kristen. Apalagi soal keamanan, tekanan yang sangat kuat untuk proses keamanan, penegakan hukum, justru didasarkan kepada Kesepakatan Malino tersebut. Sepuluh Butir Deklarasi Malino membuat semua pihak bergerak, termasuk TNI, Polri dan penegak hukum. Dari segi dana, berapa yang telah mengalir ke Kabupaten Poso sejak konflik Poso hingga saat ini? Tanpa kesepakatan Malino, mustahil dana yang banyak itu mengalir ke Kabupaten Poso. Jika penyalurannya bermasalah, bukan kesepakatan Malino yang keliru, tetapi system dan kebobrokan moralitas pihak-pihak yang menyalurkannya.

Sangat menyedihkan, jika ada pihak-pihak yang menyatakan bahwa dia atau partainya yang membuat Poso aman, dia yang mengupayakan dana mengalir ke Kabupaten Poso. Pada hal, dia tidak ada di Poso pada waktu itu, apa lagi di Malino. Bahkan dari sisi politis, pada waktu itu Partai Politik nya pun belum berdiri, termasuk Partai yang Bapak dirikan. Tak seorangpun yang menganggap dirinya pahlawan. Hanya Tuhan, Allah, Yang Maha Kuasa ! Jusuf Kalla sendiri menyatakan bahwa Pertemuan Malino adalah Amanah Tuhan !

Pemulihan masyarakat sangat berkaitan dengan peluang dan kualitas pendidikan. Hal ini sangat ditekankan oleh Jusuf Kalla. Oleh karena itu, berbagai sarana pendidikan dibangun mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, antara lain pembangunan Pesantren Modern di Tokorondo dan pembangunan Universitas Kristen di Tentena (UNKRIT). Mengenai proses pembangunan Pesantren di Tokorondo, tentu saudara-saudara Muslim yang dapat menjelaskannya secara tepat.

Dalam konteks Universitas Kristen, dengan pola pikir dan pola tindakan yang cepat, pada tanggal 29 Desember 2007, Jusuf Kalla mengundang Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen GKST, Bapak Pdt. Ar. Tobondo, MTh, Pdt. Drs.H.X.Sigilipu, Dr.H.Lumeno, di Istana Wakil Presiden RI. Dalam pertemuan itu dibahas kebutuhan pembangunan UNKRIT Tentena. Dana yang disetujui oleh Wakil Presiden RI (Jusuf Kalla); Rp. 12,5 Miliar. Pada tahun 2008, direalisasikan Rp. 7,5 Miliar. Wakil Presiden RI memastikan bahwa pada bulan Juli 2009 akan disalurkan Rp.5 Miliar. Dana tersebut tersentralisasi dalam Rekening Rektorat UNKRIT. Dalam proses perjalanan pembangunan UNKRIT, Jusuf Kalla secara pribadi memberikan bantuan dana Rp. 1 Miliar untuk pembangunan Aula UNKRIT; dana yang telah direalisasikan Rp. 485 Juta dan sisanya akan disalurkan sesuai dengan kemajuan pembangunan. Dari dana tersebut, Rp. 97 Juta membantu Kantor Unkrit dan fasilitasnya. Seluruh dana tersebut tersentralisasi dalam Rekening Yayasan Perguruan Tinggi Kristen GKST. Bahkan dalam proses percepatan Pembangunan Sulteng, diupayakan Rp. 4 Miliar untuk UNKRIT dan peralatan Teleconfrens Rp. 2 Miliar. Bukan hanya itu, ketika terjadi masalah dan kelambatan dalam penerbitan Izin Operasional dan Pembangunan UNKRIT, Jusuf Kalla bertindak cepat dan tegas. Beliau memanggil Dirjen Pendidikan Tinggi, Prof Dr Satryo Brodjonegoro, Juli 2007. Dan hasilnya, izin tersebut diterbitkan ! Selanjutnya, pendampingan terhadap UNKRIT dilaksanakan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi yang baru: Dr. Fasli Djalal. Di Tentena, Jusuf Kalla menyatakan bahwa beliau berharap UNKRIT dapat berkembang seperti Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, dan Jusuf Kalla siap untuk mengawal proses tersebut. Berkaitan dengan itu, masalah pemindahan rumah masyarakat yang ada di Lokasi UNKRIT adalah tanggungjawab Pemda Poso, sebab dananya telah disalurkan dari Pusat. Ya, Bapak telah melihat langsung kondisi lokasi UNKRIT. JIKA JUSUF KALLA TIDAK BERJIWA NASIONAL, TIDAK MUNGKIN JUSUF KALLA MEMFASILITASI PEMBANGUNAN UNIVERSITAS KRISTEN TENTENA.

Dalam berbagai segi, wilayah Poso akan semakin “terang.” Tetapi kini kegelapan masih terjadi, karena listrik belum memadai. Ketika, kami berdebat soal Pembangunan PLTA di Sulewana Kabupaten Poso, dinyatakan bahwa dalam Perjanjian, jika PLTA telah berfungsi maka PLTA Poso 2 akan menyalurkan dana konpensasi Rp. 12 Miliar per-tahun kepada Pemda Poso dalam bentuk pajak air dan permukaan, belum termasuk Pajak Penghasilan, belum termasuk PLTA Poso 1, Poso 3 dan listrik yang akan didistribusi. Dana tersebut akan masuk ke dalam PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kabupaten Poso. Sekali lagi, dalam hal ini keadilan untuk rakyat yang diprioritaskan, bukan kepentingan pihak tertentu.

Banyak hal yang telah dilakukan Jusuf Kalla. Siapa sebenarnya yang telah teruji dan terbukti? Hal yang telah teruji dan hal yang masih merupakan janji selalu bercampurbaur. Sekali lagi, terimakasih atas nasehat Bapak SBYmenyatakan: ”Jangan ambil resiko memilih pemimpin yang belum teruji dan terbukti. Barangkali masih penuh dengan janji.” JAWABANNYA ADALAH: BAHWA DALAM PROSES PERDAMAIAN DI POSO, AMBON, MALUKU, ACEH, PEMIMPIN YANG TELAH TERUJI DAN TERBUKTI ADALAH JUSUF KALLA, sekali lagi: HANYA JUSUF KALLA !!!

Pada bagian akhir surat ini, perkenankan saya bertanya: Mengapa Bapak SBY sebagai Menkopolkam pada waktu itu tidak hadir dalam proses Pertemuan Malino? Mengapa hanya Bapak Jusuf Kalla yang memprakarsai dan memfasilitasi Perdamaian Aceh di Helsinki? Meskipun Bapak Jusuf Kalla tidak pernah meminta penghargaan, mengapa Bapak tidak memberikan Penghargaan kepada Bapak Jusuf Kalla atas inisiatif dan peranannya dalam perdamaian di Poso, Ambon, Maluku, Aceh dll?

Terimakasih atas perkenan Bapak merespons surat ini.

Tentena, 17 Juni 2009
Mantan Narapidana Kasus Poso
Rinaldy Damanik.
Mesale House - Jl. Dr. AC.Kruiyt No.1. Petirodongi-Tentena.

Tulisan ini telah diposting di Publik Kompasiana (4 Juli 2009)


Baca Selengkapnya,...

Wassalam - Admint blog on Physics

Minggu, Juni 21, 2009

Tsunami Aceh, Bentakan JK dan Koordinasi SBY

Lupakan sejenak hiruk pikuk pilpres 2009, silahkan baca tulisan ini, artikel yang ditulis dengan sangat baik oleh Majalah Tempo tentang bagaimana detik-detik Tsunami melanda Aceh, kemudian bentakan JK pada Menteri dan Wakil Gubernur Aceh sampai lakon SBY mengkoordinasi pejabat Indonesia "Tuga Hari Penuh Badai, JK!" 26 Des. 2005 Hal. 32

Tiga Hari Penuh Badai
Inilah kisah di pusat kekuasaan selama tiga hari pertama setelah tsunami. Mengenang setahun tragedi itu, beberapa sumber termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Menteri Komunikasi dan Informasi Sofjan Djalil menuturkan kenang-kenangan mereka kepada Tempo.

Hari Pertama
Baru duduk di jok mobilnya, telepon seluler Jusuf Kalla berdering-dering. Staf pribadinya melaporkan: “Pak, di Aceh ada tsunami. Dahsyat sekali.” Pagi itu, 26 Desember 2004, Kalla hendak menghadiri halal bihalal warga Aceh di Senayan, Jakarta. Kalla lalu mengirim pesan pendek ke telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang pagi itu berada nun jauh di Nabire, Papua. Presiden menemui korban gempa yang melumat Nabire sehari sebelumnya.
Presiden membalas: “Saya sudah dengar
Tolong koordinasikan.” Kalla lalu menelepon Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Provinsi Aceh. Gubernur Abdullah Puteh saat itu telah ditahan di penjara Salemba karena dugaan kasus korupsi.

Kalla juga mengontak Kapten Didit Soerjadi, pilot pesawat pribadinya. Didit sedang beristirahat. “Kau segera mandi dan berangkat ke Aceh,” perintah Kalla. Semuanya serba buru-buru. Perintah terus mengalir saat Didit mandi. “Lucu juga, saya mandi sambil terima telepon Pak Wapres,” kenang sang pilot. Wapres menggegas semua stafnya menelepon semua pejabat di Aceh. Sial, tak satu pun menyahut. Kalla mulai cemas.

Di Aceh, dunia berhenti pagi itu. Bumi berguncang dengan kekuatan 8,6 pada skala Richter, air laut tumpah ke daratan. Beberapa keluarga sempat mengabarkan soal air bah kepada kerabat di Jakarta. Cuma sebentar. Lalu telepon putus total.
Halal bihalal warga Aceh di Senayan dibuka pada pukul sembilan lebih, berlangsung dalam suasana tegang sekali. Berita tsunami sudah menyebar. Banyak yang sibuk menelepon. Beberapa orang berlinang air mata. Ada yang histeris, gusar kian-kemari. Kalla berpidato sekenanya. Hampir tak ada yang mendengar. “Orang-orang ingin acara itu cepat kelar,” tutur Kalla kepada Tempo. Turun panggung, Kalla menggelar rapat mendadak di situ.

Dia memerintahkan Sofjan Djalil memimpin rombongan pertama ke Aceh. “Pakai pesawat saya saja,” kata Wapres. Anggota rombongan 30 orang, antara lain Menteri Perumahan Rakyat Yusuf Azhari, Azwar Abubakar, dan beberapa tetua Aceh. Kalla membekali Sofyan uang Rp 200 juta dan sebuah telepon satelit. “Begitu kau tiba di Aceh, langsung telepon saya,” perintahnya. Mereka menjadi rombongan pertama pemerintah yang terbang ke Aceh di hari pertama tsunami.

Pesawat berputar dua kali di langit Banda Aceh. “Dari udara Aceh terlihat hancur total,” tutur Kapten Didit. Menara bandara retak. Tak satu pun petugas di menara. Untung, pesawat mulus mendarat, sekitar pukul enam sore.
Anggota rombongan membeli beras dan mi instan di beberapa toko dekat bandara, lalu beranjak ke pendapa kantor gubernur sekitar pukul tujuh malam. Jalanan sunyi senyap. Gelap gulita. Satu-satunya penerangan cuma lampu mobil. Sungguh mengerikan. Mayat bergelimpangan di jalan, di kolong rumah, tersangkut di dahan pohon. Beberapa ekor anjing berlari ke sana kemari. Anggota rombongan mulai menangis sesenggukan.

Malam itu ratusan orang menumpuk di pendapa kantor gubernur. Banyak yang luka parah. Puluhan mayat dijejerkan di latar depan pendapa. Aceh lumpuh total. Koordinasi tak jalan karena aparat pemerintah pusing mencari sanak keluarga. Kepala Polres Banda Aceh hanyut ditelan tsunami.

Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Aceh, bisa memimpin. Namun, dia sedang galau. Rumahnya di Blang Padang hancur. Ia tak tahu nasib anak-anaknya. Wakil Gubernur ini pulang ke rumahnya ditemani Sofjan Djalil, Jusuf Azhari dikawal dua tentara. Mobil melaju dalam gelap, menghindari mayat-mayat yang direbahkan di kiri-kanan jalan. Mobil berhenti kira-kira 50 meter dari rumah Azwar sebab sampah menggunung menutup jalan.

Wakil Gubernur turun ditemani seorang tentara. Dipandu nyala senter, mereka mengendap-endap. Sofjan menunggu dengan cemas. Setengah jam berlalu, Azwar pulang. “Di rumah banyak mayat, tapi anak-anakku tak kelihatan,” katanya penuh kecemasan. Mereka lalu balik ke pendapa.

Berkali-kali Sofjan menelepon Jusuf Kalla di Jakarta. Tak bersahut. Di Jakarta, Wapres menggelar sidang kabinet darurat di rumah dinas Jalan Diponegoro pada pukul 21.30 WIB. Sembilan menteri dan Panglima TNI hadir. Sembari rapat, Kalla berkali-kali pula mengontak Sofjan. Tak bersambung juga. “Sofjan itu bawa telepon satelit kok tidak sambung-sambung,” kata Kalla.

Di Aceh, Sofjan memutuskan mengirim kabar lewat Orari Angkatan Udara di Aceh. Orari Jakarta meneruskan pesan itu ke telepon seluler Jusuf Kalla. Ini laporan pertama Sofjan dari wilayah bencana: ”Pak, korban sekitar 5.000 hingga 6.000.” “Astagfirullah, astagfirullah,” kata Kalla berkali-kali sembari mengusap wajah. Sejumlah menteri tertunduk. Hening menyapu ruang rapat.

Kalla melanjutkan pesan ke Presiden Yudhoyono yang malam itu sudah tiba di Jayapura. Presiden menyampaikan belasungkawa kepada korban bencana. Besoknya, Presiden terbang menuju Aceh.
Pukul sepuluh malam, telepon satelit Sofjan sukses menembus Jakarta. “Eh, ini Sofjan,” ujar Kalla kegirangan. “Apa yang terjadi? Kenapa kau tak telepon-telepon?” tanya Kalla dengan suara keras. “Saya stres, Pak. Di sini gelap sekali,” sahut Sofjan dari seberang. “Besok aku susul ke sana,” ujar Kalla. Percakapan ditutup.

Malam itu Kalla mematangkan persiapan ke Aceh. “Saya minta Anda menyediakan dana sepuluh miliar uang kontan,” perintah Kalla kepada Menteri Keuangan Jusuf Anwar. Jusuf tertegun. “Pak, kalau segitu tak ada,” jawabnya. “Saya tidak mau tahu. Itu urusanmu,” kata Kalla. Rapat bubar larut malam.

Di larut malam itu, pendapa kantor gubernur di Banda Aceh masih gaduh. Warga yang luka parah dirawat seadanya. Koordinasi sulit karena aparat sibuk mencari keluarga masing-masing. Kepala Polda Aceh Bahrumsyah datang ke pendapa dengan terengah-engah. Wajahnya letih. Si Kapolda cuma mengenakan pakaian dinas tanpa alas kaki alias nyeker. Orang hilir-mudik di pendapa membikin Sofjan bingung menjaga uang Rp 200 juta yang dia bawa dari Jakarta. Ia meminta seorang anggota DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera menjaga uang itu. “Orangnya berjenggot. Uang pasti aman,” ujar Sofjan.

Sang Menteri lalu merebahkan badan di atas karpet. Belum lagi mata terpejam, terdengar pekikan, “Gempa! Gempa!” Orang-orang berlari. Sofjan ikut kabur. Setelah bergoyang beberapa menit, bumi kembali tenang. Warga kembali ke pendapa. Tak berapa lama, teriakan gempa terdengar lagi. Semua berhamburan, termasuk Pak Menteri. Malam itu gempa datang berkali-kali. Lama-lama, Sofjan putus urat takutnya. Saat orang-orang kabur, ia terlelap. “Sudah jam dua pagi, masak lari-lari terus. Saya lelah sekali,” kenangnya. Besoknya, orang ramai menggunjingkan kehebatan nyali Pak Menteri.

Hari Kedua
Hari kedua, 27 Desember. Entah bagaimana caranya, Menteri Keuangan berhasil menyediakan uang kontan pagi itu. Jumlah Rp 6 miliar. Menjelang siang, Kalla terbang ke Aceh membawa serta uang satu peti. Petang hari, Presiden Yudhoyono mendarat di Lhokseumawe. Wajahnya sedih. “Tadi pagi saya meninjau Nabire. Sore ini saya di Lhokseumawe menemui saudara-saudara yang tertimpa musibah lebih besar lagi,” katanya.

Setibanya di Banda Aceh, Kalla memerintahkan stafnya memborong beras, mi instan, dan aneka makanan lain. Karena berasnya kurang, Kalla bertanya, “Eh, berasnya sedikit sekali. Mana beras dari Dolog?” Seseorang menjawab, pintu Dolog digembok. Si pemegang kunci tak diketahui rimbanya. Wakil Presiden menyergah dalam nada tinggi “Buka! Kalau tak bisa, tembak gerendelnya. Apa perlu tanda tangan Wapres untuk buka pintu Dolog?” Suasana tegang. Beberapa polisi bergegas membidik gembok. Beras pun mengalir.
Rombongan Kalla berlalu ke pendapa kantor gubernur. Di Lambaro, mereka menyaksikan ratusan mayat berjejer di depan toko. “Masya Allah,” ucap Kalla. Badannya lemas. Di pendapa ia menggelar rapat, lalu keliling kota bersama Mar’ie Muhammad, Ketua Palang Merah Indonesia, yang datang sehari sebelumnya. Kota itu lautan mayat.

Mayat-mayat harus segera dikubur karena bau busuk menikam hidung. Untung, ada seorang ustad. Kalla minta ustad itu mendoakan tumpukan jenazah sebelum dikuburkan. Tapi siapa yang menjamin sahnya pemakaman? “Saya jamin,” kata Kalla. Ia mencorat-coret di atas kertas, lalu membubuhkan parafnya. “Tolong keluarkan ayat yang pantas-pantas saja,” pintanya kepada ustad.

Sore hari Kalla terbang dengan helikopter ke Lhok Nga untuk menjatuhkan mi instan dari udara. Helikopter itu tak punya sabuk pengaman. Setiap pesawat memutar, tubuh Kalla serong ke kiri, serong ke kanan. Rombongan Kalla terbang ke Medan pukul tujuh malam. Sofjan Djalil yang sudah dua hari di Banda Aceh minta ikut pulang. “Baru dua hari sudah minta pulang. Kau tetap di sini,” jawab Kalla. Malam itu Sofjan pusing tujuh keliling menjaga uang satu peti yang dibawa Kalla. Takut uang itu dicolong, Menteri Sofjan dan kawan-kawannya tidur mengitari peti itu.

Hari Ketiga
Hari ketiga, 28 Desember. Presiden Yuhdoyono terbang dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh. Kalla yang sudah berada di Medan mendapat kabar Meulaboh rata tanah. Ia memerintahkan stafnya mencari pesawat ke Meulaboh. Dapat pesawat Angkatan Udara. Dari udara, Meulaboh tampak seperti tanah gusuran. “Astagfirullah,” ucap Kalla berkali-kali.

Kalla meminta pilot terbang lebih rendah. Pilot mengangguk. Kalla minta lebih rendah lagi. Kali ini pilot bilang, “Tak bisa, Pak. Bahaya.” “Kau ini orang mana?” tanya Kalla. “Saya orang Makassar, Pak,” jawab si pilot. “Ah, orang Makassar kok penakut,” sergah Kalla. Pilot mengalah, pesawat melayang cuma beberapa meter di atas pucuk kelapa. Untung saja arahnya ke laut.
Setelah berkali-kali memutar di atas Meulaboh, pesawat kembali ke Medan. Kalla langsung rapat dengan Gubernur Sumatera Utara Rizal Nurdin—kini sudah almarhum. Dia memerintahkan Gubernur mengirim makanan ke Meulaboh.


Keduanya sempat bersoal-jawab.
Gubernur : Bagaimana caranya, Pak?
Jusuf Kalla : Lewat udara, buang dari pesawat,
Gubernur : Kalau dibuang nanti pecah, Pak.
Jusuf Kalla : Tidak apa-apa, toh sampai di perut pecah juga.
Gubernur : Ya, tapi nanti basah Pak.
Jusuf Kalla : Bungkus saja pakai plastik.
Gubernur : Pak, nanti jatuh ke GAM,” Gubernur berusaha menjelaskan.
Jusuf Kalla : Tidak apa-apa. GAM juga manusia. Perlu makan,” nada Kalla mulai meninggi.
Beberapa orang membisiki Gubernur supaya jangan membantah.
Jusuf Kalla : Jadi, bagaimana, bisa atau tidak?
Gubernur : Siap, Pak.

Pesawat pemasok makanan melayang ke Meulaboh. Presiden dan Wakil Presiden kembali ke Jakarta pada hari ketiga.

Lalu, bantuan kemanusiaan mulai mengalir dari segenap penjuru dunia….

Baca Selengkapnya,...

Wassalam - Admint blog on Physics

Jumat, Juni 19, 2009

Kesatriakah calon Presiden kita?

Satria dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah orang yang baik hati, jujur dan gagah berani, lebih tepat dalam konteks individu disebut sebagai prajurit gagah berani. Jika kata satria diberikan awalan ke sehingga menjadi kesatria maka memiliki arti sebagai sifat satria atau prajurit yang memiliki sifat gagah berani.

Itulah sedikit pengantar tentang kata satria dalam kamus bahasa Indonesia, kalau kita ingin memberikan keterkaitan antara kegiatan dalam beberapa hari terakhir maka kata ini akan saya akan kaitkan dengan calon Presiden 2009-2014.

Dalam beberapa kesempatan SBY selalu mengatakan bahwa “saya dalam berpolitik, santun, sopan, beretika” sesuai dengan jargon antara SBY dengan pasangannya Boediono yang disebut SBY-Berbudi.

Apakah kenyataannya seperti itu? Sebelum para pembaca menjawabya, maka terlebih dahulu saya akan mengatakan bahwa sesungguhnya SBY, dan 2 calon lainnya yaitu Megawati dan JK memiliki sifat kepemimipinan yang mumpuni, teladan bagi seluruh rakyat dan manusia yang bisa dipercaya dengan kata-katanya.

Namun, orang-orang disekitar merekalah (tim sukses) yang membuat bahwa ketiga calon Presiden kita menganggapnya manusia-manusia yang belum pantas dikatakan sebagai teladan bagi kita semua. Dalam pandangan lain tentang SBY yang menurut hasil pemilihan legislatif 2009 dimana partai Demokrat sebagai kampiun disusul PDI Perjuangan dan kemudian partai Golongan Karya, kemudian dalam penentuan calon Presiden SBY diusung 4 partai besar lainnya dan kurang lebih 20 partai kecil, sedangkan Mega-Pro dan JK Wiranto masing-masing 2 partai pengusung. Belum lagi tentang hasil survey yang diadakan oleh beberapa lembaga yang menurut kelembagaannya sebagai lembaga yang independent diperoleh hasil yang lagi-lagi memberikan kemenangan untuk SBY.

Dengan hasil analisis di atas memang memperliatkan bahwa posisi SBY sementara ini unggul menurut beberapa versi baik dengan analisis maupun menurut survey, walaupun belakangan ini memperlihatkan posisi SBY turun perlahan-lahan. Apakah menurut tim sukses Mega-Pro dan JK Wiranto persoalan selesai sampai dengan analisis dan survey tersebut? Menurut tim sukses ke dua tim (No 1 dan No. 3), menurut saya, menurut teman-teman lain, mereka yang golput, dan pemilih yang belum memiliki pilihan tetap “perjuangan baru dimulai” inilah perjuangan yang sesungguhnya, gelanggang baru dibuka.

Namun, ketika gelanggang baru dibuka muncullah persoalan “Ketidak kesatriaan”. Salah satu kasus adalah ketika dilemparkannya opini “Pemilihan 1 Putaran” dilanjutkan dengan munculnya iklan satu halaman berwarna “Pemilihan 1 Putaran” kemudian sampai pada tanggal 17 Juni 2009, rakyat dikagetkannya brosur “Pemilihan 1 Putaran”. Kesemua jenis bentuk kampanye ini mewakili perjuangan tim kampanye dari SBY Boediono yang bertujuan menereor pemilih.

Dimana letak hubungan antara “Kesatriakah calon Presiden Kita?” dengan “Pemilihan 1 Putaran”, kalau pembaca dapat menarik hubungan antara tulisan pragraf (7)di atas tentang hasil pemilu legislatif, analisis pengamat, survey, polling yang memberikan keunggulan kepada SBY. Disinilah letaknya ketidaksatrianya calon pemimpin kita ketika merasa unggul pada bukan arena sesungguhnya, justru mereka tidak percaya diri, sombong, dan takabbur. Kalau mereka memang yakin dan sangat yakin seharusnya mereka tinggal menunggu hasilnya, bukan kemudian mengebiri pemilih.

Tim SBY sudah mengebiri keinginan rakyat untuk tidak memilih sesuai dengan hati nurani rakyat itu sendiri, dengan memilih karena mengikuti hasil survey dan polling. Padahal proses pemilihan presiden itu sendiri sudah diatur dalam undang-undang, berapapun persoalan putaran Pilpres semuanya sudah diatur dalam undang-undang Pilpres, bukan diatur oleh hasil survey.

Dari tulisan di atas, masihkah kita ingin “DIARAHKAN” pada satu pilihan yang bukan keinginan kita? Ingat! Ada 3 pilihan yang telah diberikan, seharusnya kita berkaca bahwa diatas segala-galanya masih ada tuhan. Tuhan yang akan menjauhi ummat-NYA karena sifat kesombongan dan takabburnya, kalau Tuhan saja menjauhi, bagaimana dengan kita sendiri sebagai rakyat?


Baca Selengkapnya,...

Wassalam - Admint blog on Physics

Rabu, Juni 17, 2009

Pulang Fadil! Lebih Cepat Lebih Baik


Berita Anak Hilang
Sudah tujuh hari lamanya ibunda dan ayahanda Fadil menunggu anaknya pulang. Tapi sang anak belum jua menampakkan diri.

"Saya sudah mencarinya ke semua keluarga dan teman-teman dekatnya, tetapi tidak satu pun yang mengetahui keberadaan Fadil. HP juga tidak aktif. Saya juga telah melapor ke Polresta Manggala, kata A Arfan, di redaksi Tribun, Rabu (17/6).
Wajar jika Arfan yang juga lurah Sambung Jawa Kecamatan Mamajang Makassar ini sangat gelisah karena anak pertamanya yang baru berusia 12 tahun itu sudah tujuh hari tidak pulang ke rumah orang tuanya.


Menurut Arfan, anaknya meninggalkan rumah sejak, Kamis (11/6), sekitar pukul 09.00. Saat pergi, Fadil mengenakan celana dan kaos berwarna kuning dan membawa serta sebuah telepon selular.
Menurut informasi, Fadil terakhir terlihat di sebuah warnet di Antang dekat kediaman orang tuanya. Saat bermain game, Fadil sempat pinjam HP milik temannya untuk menghubungi neneknya di Gowa untuk dijemput. Tak lama setelah itu Fadil keluar warnet.
Informasi lain menyebutkan, setelah keluar dari warnet Fadil pergi bersama seorang wanita.
Arfan berharap, jika ada warga yang menemukan atau mengetahui informasi tentang keberadaan anaknya mohon menghubunginya di BTN Makkio Baji Blok D5 No 9 Makassar atau Hp 081242882020.(*)

Baca Selengkapnya,...

Wassalam - Admint blog on Physics

Selasa, Juni 16, 2009

ANTI IKLAN 1 PUTARAN PILPRES 2009

Ketika saya sedang berjalan menuju ke sebuah titik "Masa Depan" ada 3 pilihan jalan yang telah diberikan Tuhan yaitu Jalan 1, Jalan 2, dan Jalan 3. Tuhan tidak menggiring saya dengan menurunkan malaikatnya yang bertujuan mengarahkan saya pada 1 jalan tertentu, tetapi Tuhan hanya menurunkan wahyunya supaya saya pelajari dengan seksama mana jalan yang tepat

Mungkin saja Tuhan sudah ada Indonesia, sehingga telah menentukan 1 jalan tertentu???

Sedih rasanya ketika acara rakyat Indonesia dibuat dan diskema dengan salah orang-orang tertentu, hanya dengan kepentingan seseorang menjadi penguasa. Ketika kampanye dengan cara-cara beradab dan berilmu dimulai dari Sabang sampai Marauke, tiba-tiba salah satu tim kampanya calon Presiden melemparkan isu dengan iklan cukup 1 putaran, hanya dengan berdasarkan survei dan hasil pemilu legislatif 2009 bahwa dirinya akan menang. Walaupun dipasangkan dengan "SENDAL JEPIT" sebuah kesombongan yang tidak terampuni oleh siapapun, mungkin termasuk TUHAN? kita tidak tahu.....


Sebagai rakyat cara-cara seperti ini sungguh sebuah tindakan yang tidak mencerminkan demokrasi berbangsa dan bernegara, bukankah bangsa ini adalah bangsa yang diakui dunia internasional sebagai negara yang demokrasinya sedang berkembangan dengan pesat? lalu kenapa orang-orang besar dinegara ini yang ingin menghancurkannya dengan cara yang tidak benar?

Biarkanlah rakyat menentukan jalanya sendiri, jangan kebiri kami seperti kambing, kalau Tuhan sudah menentukan jalan rakyat Indonesia, apapun hasilnya itu karena Tuhan.

Baca Selengkapnya,...

Wassalam - Admint blog on Physics

Sabtu, Mei 30, 2009

PKS Tidak Arahkan Ibu Negara Berjilbab

Bugishqnews - 'Kampanye jilbab' yang melekat pada istri-istri pasangan calon presiden dan wakil presiden Jusuf Kalla-Wiranto terus mendapat tanggapan. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai mitra koalisi Demokrat tidak menyarankan istri-istri SBY-Boediono lantas mengenakan jilbab.

"PKS tidak mengarahkan Ibu Negara berjilbab," kata Wakil Ketua PKS Bidang Politik, Zulkieflimansyah, di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Jumat, 29 Mei 2009.

Menurut Zulkieflimansyah, bila ternyata Ibu Ani dan Ibu Herawati akhirnya menggunakan jilbab, maka yang terjadi justru akan mempengaruhi elektabilitas SBY-Boediono. Yang terjadi adalah blunder negatif dan mengurangi daya pilih kandidat SBY-Boediono.


"Biarkanlah mengalir alamiah berdasarkan pemahaman masing-masing orang," ujar mantan calon gubernur Banten ini. Politisi yang akrab disapa Zul ini menilai, PKS bahkan tidak mengingikan Ibu Ani dan Herawati lantas mengenakan jilbab sesaat menjelang Pemilu Presiden digelar.

"Jadi, PKS tidak pernah memaksa. Aneh kalau Ibu Negara berjilbab karena tekanan kompetitif. Saya kira PKS sudah cukup arif memandang itu semua," ujar dia.

Seperti diketahui, istri-istri JK-Wiranto yang mengenakan jilbab menjadi isu tersendiri jelang Pemilu Presiden 8 Juli mendatang. Bahkan, di Kantor Slipi II Partai Golkar, kawasan Menteng, sudah beredar buku tentang wanita shalihah. Buku ini berisi tentang Mufidah Kalla dan Uga Wiranto.

Dikutip dari www.politik.vivanews.com

Baca Selengkapnya,...

Wassalam - Admint blog on Physics

Kirim Pertaanyaan - Tugas Anda

Nama
Email Anda
Hal
Lamp. File
Pesan
Kode Verifikasi
Ketik kode di samping
[Refresh]
Setelah Kirim Pertanyaan-Tugas, Tulis pesan Anda di Buku Tamu

Pengikut blog on Physics

Desain blog on Physics


blog on Physics
"lebih dari sekedar SKETSA"
desain : to butta panritalopi - Bulukumba

Komenter Terbaru